Piala Dunia, sebuah acara besar yang diadakan setiap empat tahun sekali, membawa manfaat yang sangat besar bagi negara-negara yang memenangkan tender. Acara ini meningkatkan pariwisata, makanan, akomodasi, dan transportasi. Sama seperti konser idola global, penggemar dari seluruh dunia berkumpul untuk merasakan atmosfer yang tak terlupakan, adrenalin, dan kegembiraan mencetak gol. Ini sangat berbeda dengan menonton tayangan ulang di ponsel Anda. Yang satu adalah pengalaman langsung, sedangkan yang terakhir lebih seperti menyerap informasi.

Amerika Serikat, sebagai negara tuan rumah, tentu saja tidak ragu-ragu untuk menghasilkan uang. Biaya masuk yang sangat mahal, mencapai ratusan atau ribuan dolar AS, bahkan mendorong maskapai penerbangan untuk membuat lelucon, menggunakan promosi kontroversial di papan reklame untuk membandingkan harga: penerbangan ke Portugal hanya seharga $799, sementara menonton tim Portugal berharga $3.870—perbedaan yang sangat besar, menunjukkan kesadaran konsumen yang semakin meningkat.

Piala Dunia kali ini diwarnai oleh banyaknya berita negatif yang tidak masuk akal, dengan banyak netizen menyarankan agar acara tersebut dibatalkan dan dipindahkan ke tahun depan, dengan penyelenggara yang berbeda. Diskriminasi ras dan kebangsaan merajalela, dan peraturan hukum diperluas hingga ke influencer online. Pemerintah AS waspada terhadap warga negara asing yang saat ini menonton pertandingan dengan visa turis yang tertangkap mencoba mengambil keuntungan dari konten Piala Dunia; mereka akan menghadapi konsekuensi hukum. Sampai batas tertentu, lalu lintas online memang melibatkan keuntungan finansial. Bukankah peraturan ini pada dasarnya membatasi wisatawan untuk merekam pertandingan dan perayaan serta melarang unggahan mereka di media sosial?

Sumber gambar: Internet